Bahaya Junk Food Bagi Anak Usia Dini
Pada abad ke-21 ini, negara di belahan dunia manapun telah mengenal istilah junk food. Junk food mengacu pada makanan yang minim nilai gizi, tetapi kaya akan zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya zat gula, garam, bahkan lemak trans yang sangat tinggi. Junk food juga dikenal sebagai makanan yang dapat diproses dalam waktu yang relatif cepat agar bisa segera dikonsumsi oleh konsumen.
Sebuah penelitian yang telah dilakukan di University of New South Wales memunculkan sebuah fakta jika terlalu sering mengonsumsi junk food akan berdampak buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Fakta ini didukung dengan eksperimen mereka yang memberikan junk food pada seekor tikus yang dianggap memiliki saluran pencernaan serta sistem tubuh yang hampir mirip dengan manusia. Hasil eksperimen tersebut menjadikan tikus mengalami kesulitan dalam mengenal dan mengingat objek yang sering dilihat ketika objek tersebut dipindahkan ke tempat yang baru. Jika hal ini dikaitkan dengan perkembangan otak manusia, maka tidak hanya penurunan daya ingat saja yang bisa terjadi. Menurunnya fungsi otak secara keseluruhan pun tidak menutup kemungkinan jika pembiasaan makan junk food ini telah ditanamkan sejak dini.
Dampak lainnya yang bisa timbul dari kebiasaan mengonsumsi junk food ini adalah kemampuan berpikir anak yang menurun, kesulitan melakukan pertimbangan dalam suatu pilihan, kesulitan memahami bahasa bahkan bisa menyebabkan menurunnya kecerdasan mental pada anak. Satu dampak akan berakibat pada menghambat perkembangan anak yang lainnya. Misalnya, penurunan kemampuan dalam berbahasa. Anak usia 5 tahun yang seharusnya telah bisa berbicara sebagai salah satu bentuk tugas perkembangannya dapat terselesaikan dengan baik, bisa saja perkembangan bahasa mereka bisa terhambat jika anak tersebut diasupi dengan makanan yang berjenis seperti junk food sejak ia berusia 1-2 tahun.
Namun, apabila kita kembali menengok ke belakang tekait jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sebenarnya hal tersebut kembali lagi kepada kebiasaan orang tua dalam memberikan jenis asupan makanan sehari-hari. Selain itu, faktor lingkungan sekitar anak juga akan memberikan pengaruh yang besar terhadap bagaimana pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi anak. Oleh karenanya, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada anak dari akibat makanan yang mereka konsumsi. Kesibukan orang tua pada zaman sekarang sangat memungkinkan pula jika makanan yang dikonsumsi anak di rumah tidak sehat seperti makanan instan dan siap saji.
Faktor lainnya adalah lingkungan sekitar anak. Misalnya di lingkungan sekolah anak, sering sekali kita temukan bahwa banyak sekali jajanan sekitar sekolah yang tidak sehat. Seperti sejenis sosis dan makanan ringan lainnya yang banyak mengandung pewarna buatan, pemanis buatan, hingga pengawet makanan yang sangat tidak baik untuk kesehatan dan perkembangan kognitif anak.
Pendekatan sejak dini sangat diperlukan untuk membiasakan mereka mengonsumsi makan makanan yang sehat dan bergizi. Saat anak memasuki usia remaja menuju dewasa, mungkin mereka akan lebih sulit untuk menyesuaikan kebiasaan mengonsumsi makanan dengan jenis makanan yang jarang mereka makan sehari-harinya. Makanan tradisional dapat menjadi solusinya. Selain murah meriah, makanan tradisional juga sangat jarang ditemukan dengan kandungan-kandungan berbahan pengawet, pemanis buatan dan sejenisnya yang dapat menurunkan kualitas perkembangan kognitif anak.
Sebuah penelitian yang telah dilakukan di University of New South Wales memunculkan sebuah fakta jika terlalu sering mengonsumsi junk food akan berdampak buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Fakta ini didukung dengan eksperimen mereka yang memberikan junk food pada seekor tikus yang dianggap memiliki saluran pencernaan serta sistem tubuh yang hampir mirip dengan manusia. Hasil eksperimen tersebut menjadikan tikus mengalami kesulitan dalam mengenal dan mengingat objek yang sering dilihat ketika objek tersebut dipindahkan ke tempat yang baru. Jika hal ini dikaitkan dengan perkembangan otak manusia, maka tidak hanya penurunan daya ingat saja yang bisa terjadi. Menurunnya fungsi otak secara keseluruhan pun tidak menutup kemungkinan jika pembiasaan makan junk food ini telah ditanamkan sejak dini.
Dampak lainnya yang bisa timbul dari kebiasaan mengonsumsi junk food ini adalah kemampuan berpikir anak yang menurun, kesulitan melakukan pertimbangan dalam suatu pilihan, kesulitan memahami bahasa bahkan bisa menyebabkan menurunnya kecerdasan mental pada anak. Satu dampak akan berakibat pada menghambat perkembangan anak yang lainnya. Misalnya, penurunan kemampuan dalam berbahasa. Anak usia 5 tahun yang seharusnya telah bisa berbicara sebagai salah satu bentuk tugas perkembangannya dapat terselesaikan dengan baik, bisa saja perkembangan bahasa mereka bisa terhambat jika anak tersebut diasupi dengan makanan yang berjenis seperti junk food sejak ia berusia 1-2 tahun.
Namun, apabila kita kembali menengok ke belakang tekait jenis makanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sebenarnya hal tersebut kembali lagi kepada kebiasaan orang tua dalam memberikan jenis asupan makanan sehari-hari. Selain itu, faktor lingkungan sekitar anak juga akan memberikan pengaruh yang besar terhadap bagaimana pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsi anak. Oleh karenanya, kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada anak dari akibat makanan yang mereka konsumsi. Kesibukan orang tua pada zaman sekarang sangat memungkinkan pula jika makanan yang dikonsumsi anak di rumah tidak sehat seperti makanan instan dan siap saji.
Faktor lainnya adalah lingkungan sekitar anak. Misalnya di lingkungan sekolah anak, sering sekali kita temukan bahwa banyak sekali jajanan sekitar sekolah yang tidak sehat. Seperti sejenis sosis dan makanan ringan lainnya yang banyak mengandung pewarna buatan, pemanis buatan, hingga pengawet makanan yang sangat tidak baik untuk kesehatan dan perkembangan kognitif anak.
Pendekatan sejak dini sangat diperlukan untuk membiasakan mereka mengonsumsi makan makanan yang sehat dan bergizi. Saat anak memasuki usia remaja menuju dewasa, mungkin mereka akan lebih sulit untuk menyesuaikan kebiasaan mengonsumsi makanan dengan jenis makanan yang jarang mereka makan sehari-harinya. Makanan tradisional dapat menjadi solusinya. Selain murah meriah, makanan tradisional juga sangat jarang ditemukan dengan kandungan-kandungan berbahan pengawet, pemanis buatan dan sejenisnya yang dapat menurunkan kualitas perkembangan kognitif anak.
So, kalian sudah tau kan makanan seperti apa yang baik untuk perkembangan anak. Semoga tulisan ini bermanfaat yaa ..
Komentar
Posting Komentar